Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
PilarNusantara.net – Saya terkesan sosok imam masjid di Taiwan. Asli Tionghoa, masih sangat muda, menguasai lima bahasa. Tak hanya menjadikan masjid sebagai ladang dakwah, melainkan youtube juga. Mari kita ungkap siapa sosok muda imam masjid itu. Kebetulan di Taiwan banyak pengikut Partai Koptagul. Simak narasinya sambil seruput cairan hitam tanpa gula, wak!
Tulisan ini terinspirasi dari perjalanan Philippe Nesser mengunjungi komunitas Muslim Taiwan. Semakin ditonton, semakin muncul rasa kagum. Ternyata dakwah itu tidak selalu harus berisik. Kadang cukup dengan senyum, ilmu, dan secangkir teh hangat. Ironisnya, di tempat yang umat Islamnya minoritas, Islam justru terlihat sangat percaya diri. Sementara di sebagian tempat lain, yang mayoritas malah kadang sibuk adu volume mikrofon, seolah surga bisa dipesan lewat pengeras suara.
Di jantung Kota Taipei berdiri Masjid Agung Taipei yang telah menjadi pusat komunitas Muslim selama lebih dari enam dekade. Dulu jamaahnya hanya beberapa saf. Kini setiap Jumat dipenuhi ratusan orang dari berbagai negara. Yang lebih mencengangkan, pemerintah Taiwan menyediakan ruang salat di stasiun kereta, taman nasional, bahkan kawasan wisata. Negara yang bukan mayoritas Muslim justru berpikir sederhana, “Kalau ada warga yang ingin beribadah, ya kita fasilitasi.” Selesai. Tidak perlu debat delapan episode seperti sinetron politik.
Wajah baru Islam di Taiwan adalah Imam Abdullah Cheng (鄭平). Ia imam asli Taiwan keturunan Tionghoa dikenal sebagai imam muda Masjid Agung Taipei. Lahir di Arab Saudi, pernah belajar di Belize, Taiwan, Belgia, hingga Turki, membuat hidupnya seperti paspor berjalan. Ia menguasai lima bahasa; Mandarin, Inggris, Prancis, Turki, dan Arab. Kalau beliau sedang ngobrol, Google Translate mungkin ikut minder dan memilih pensiun dini.
Yang lebih keren lagi, beliau tidak menganggap mimbar masjid sebagai satu-satunya tempat berdakwah. YouTube dan media sosial juga menjadi medan perjuangannya. Ia menjelaskan Islam dalam bahasa Mandarin dan Inggris dengan santai, ramah, dan mudah dipahami. Tidak ada wajah garang. Tidak ada nada menghakimi. Yang ada justru senyum yang membuat orang ingin bertanya lebih jauh. Ternyata algoritma internet juga bisa menjadi jalan dakwah kalau dipakai dengan bijak.
Di Taiwan, masjid bukan sekadar tempat salat. Ada tur untuk non-Muslim, kelas anak-anak, bazar makanan halal, hingga meja informasi bagi siapa saja yang ingin mengenal Islam. Dakwah dilakukan dengan membuka pintu selebar-lebarnya, bukan menutup diri sambil sibuk mencari siapa yang paling salah. Kadang sepiring nasi biryani dan keramahan jauh lebih ampuh daripada seribu komentar pedas di media sosial.
Seorang mualaf Taiwan mengaku memeluk Islam bukan karena menang debat, melainkan karena melihat akhlak seorang Muslim Thailand yang selalu membantu orang lain. Kalimat yang terus diingatnya sederhana, “Kami melakukan ini karena kami Muslim.” Sesederhana itu. Tidak ada presentasi PowerPoint. Tidak ada seminar tiga hari dua malam. Hanya perilaku yang konsisten.
Kini jumlah Muslim di Taiwan diperkirakan mencapai sekitar 300 ribu orang, mayoritas adalah pekerja migran, terutama dari Indonesia. Banyak perempuan Indonesia yang bekerja sebagai perawat lansia. Mereka datang membawa koper berisi pakaian, tetapi tanpa sadar juga membawa akhlak yang kemudian membuka pintu hidayah bagi banyak keluarga Taiwan. Ternyata senyum tulus bisa menjadi visa menuju hati manusia.
Taiwan mengajarkan satu hal yang sangat mahal nilainya. Islam tidak selalu menang karena jumlah, tetapi karena kualitas manusia yang membawanya. Imam Abdullah Cheng membuktikan, ulama masa kini bukan hanya mampu memimpin salat, tetapi juga mampu menjembatani budaya, menguasai teknologi, dan berbicara kepada dunia dengan bahasa ilmu. Mungkin inilah dakwah paling indah, membuat orang mencintai Islam bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka melihat sendiri betapa indah akhlak para pemeluknya.
(Foto Ai hanya ilustrasi)
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM









